over-friendly?
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)
“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menundukkan pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya.” (QS. An-Nur : 24)
dulu saya bergaul dengan sangat terbatas dengan laki-laki. sampai akhir SMA, yang pernah saya tebengi sepeda motor rasanya bisa dihitung dengan sepuluh jari. saya tidak bersalaman dengan laki-laki hingga akhir SMP. saya memakai kerudung ke sekolah dari SD, dan menggunakannya secara permanen ke mana-mana mulai kelas 2 SMP.
tapi atas nama coba-coba, saya memilih untuk lebih mengakrabkan diri dengan laki-laki.
senang rasanya bisa ngobrol dengan laki-laki, yang tidak mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu, tidak berlebihan, dan lebih sering berkepala dingin. senang rasanya bergaul dengan laki-laki, karena aturan tak tertulis di masyarakat adalah laki-laki harus melindungi perempuan, mendahulukan perempuan, dan membuat perempuan merasa lebih nyaman.
sejujurnya, perempuan mana yang tidak suka diperlakukan spesial?
semasa sekolah, saya selalu percaya bahwa pergaulan laki-laki dan perempuan harus dibatasi karena akan menimbulkan fitnah. namun kemudian saya menyaksikan ada banyak perempuan yang berteman baik dengan laki-laki, tanpa ada hal-hal buruk yang saya saksikan. mungkin itu salah satu alasan mengapa saya mencoba berteman baik dan membuka diri kepada laki-laki.
menjalaninya sekarang, walaupun saya juga tidak segitu akrabnya dengan laki-laki, saya menyadari bahwa memang bahaya fitnah itu ada.
semakin banyak bergaul (untuk ukuran saya), saya merasa laki-laki memang berbeda dengan perempuan. perempuan (sampelnya: saya) suka diperhatikan. laki-laki dan perempuan suka diperhatikan, tapi mungkin laki-laki tidak bisa membayangkan betapa berharganya perhatian laki-laki kepada perempuan, untuk perempuan itu. dan jika boleh menyetujui teori, laki-laki suka dipuji. sampai saat ini saya belum bisa membayangkan seberapa besar kebutuhan laki-laki terhadap pengakuan atas kapabilitas mereka, seberapa besar kebutuhan mereka akan pride dan kebanggaan, tapi saya bisa merasakan bahwa mereka membutuhkannya jauh lebih banyak daripada perempuan.
padahal laki-laki bisa memberi perhatian tanpa ada maksud apa-apa, sebagaimana perempuan memberikan pujian tanpa maksud aneh-aneh.
perempuan bisa mengutuk laki-laki karena terlalu perhatian, karena itu berbahaya untuk ketenangan hatinya. saya tidak tahu apakah laki-laki pernah mengutuk perempuan karena terlalu memujinya, untuk alasan yang sama.
selip sedikit, bisa-bisa perasaan tertarik akan muncul. istilah kerennya: cinta. ketertarikan yang terjadi secara sepihak bisa menjadi suatu tantangan tersendiri dengan rasa sakitnya sendiri (yang tidak bisa dibuat main-main juga), namun ketertarikan yang menghadapi sebuah kemungkinan bahwa rasa itu akan berbalas, merupakan tantangan yang lain lagi.
perempuan (=saya) mulai berspekulasi, dan berangan-angan. membunuh angan-angan, lalu menghidupkannya lagi. benar-benar membuat hidup menjadi tidak produktif, karena daripada memikirkan tugas kuliah, lebih baik diam dan melamun sejenak, membayangkan laki-laki, yang mungkin akan membantu perempuan, atau hanya sekedar membuat perempuan tertawa. dan sejenak berlangsung terlalu lama, tugas terbengkalai, dan pikiran terjebak antara ilusi dan kenyataan. hahahaha.
yang namanya cinta itu memang tidak bisa dibuat main-main. bagaimanapun. bagaimanapun.
dan spekulasi itu bisa menembus apapun. kata-kata ‘nothing is impossible’ terdengar sebagai ‘everything is possible’ dan terasa seperti ‘everything you desire is going to happen’.
berbahaya.
seperti kata orang, harapan itu seperti energi yang dipinjam. kita merasa jauh lebih kuat dan sehat dan mampu melakukan apa saja. namun kita harus cepat-cepat mengembalikan energi itu dalam bentuk sebuah kenyataan, karena jika tidak, kita akan jatuh terpuruk sulit untuk bangkit seperti sedia kala.
yah, setidaknya itu yang saya alami. mungkin hanya untuk perempuan tukang geer seperti saya. mungkin perempuan-perempuan supel yang memang bisa akrab dengan siapa saja tidak merasakan kegalauan yang saya rasakan.
namun semakin banyak mengenal orang, saya terkadang sedih melihat perempuan-perempuan supel ini. terasa bahwa mereka adalah perempuan dengan hati yang tidak berbeda dengan perempuan lainnya, namun mereka memasang tameng dalam hati mereka, untuk berhati-hati dengan segala daya tarik laki-laki. istilahnya mengebalkan diri dengan segala serangan, hahahaha. mungkin banyak dari mereka bahkan tidak sadar telah melakukannya. yang lainnya mungkin pasrah saja dengan segala daya tarik laki-laki.
padahal, pada dasarnya hati wanita (menurut saya) diciptakan untuk mencintai laki-laki. cinta yang harmonis antara laki-laki dan perempuan dibutuhkan untuk melahirkan dan membesarkan anak yang badan dan jiwanya sehat. dan anak-anak yang badan dan jiwanya sehat, dibutuhkan oleh peradaban sebagai agen-agen kemajuan, sebagaimana anak itu sendiri membutuhkan dirinya sehat jasmani rohani untuk meraih kebahagiaannya sendiri.
jadi, kenapa harus menamengi hati seperti itu? tidakkah takut menjadi perempuan berhati dingin yang akhirnya tidak bisa mencintai?
sejujurnya saya mulai takut menjadi salah satu perempuan berhati dingin ini.
sedangkan untuk yang memilih untuk mencintai-dan-tidak-mencintai-lalu-mencintai-yang-lain-lagi mungkin sudah agak klasik dengan bahaya-bahaya yang sudah jelas pula.
saat ini istilah ‘friendzone’ menjadi sangat populer dan itu menakutkan. bahwa laki-laki dan perempuan kini dianggap bisa sangat dekat tanpa ada keinginan untuk bersama. yah, kegilaan zaman sekarang memang tidak hanya ini sih menurut saya, hahahaha silakan sebut saya orang purba, karena membandingkan dengan pemikiran yang ada sekarang, rasanya pola pikir saya memang agak berbeda.
setidaknya untuk saya, saya tidak bisa berhenti berpikir bahwa saya ingin menikah dengan seorang laki-laki yang mencintai saya, dan membangun keluarga bersama. saya tidak butuh banyak laki-laki, kalo boleh jujur, satu orang teman laki-laki sudah cukup. dan saya harap satu orang itu saja untuk menemani saya seumur hidup.
dipikir-pikir lagi, saya butuh laki-laki untuk membangun keluarga bersama. bukan untuk hal lain. jadi, saat kemungkinan untuk membangun keluarga itu tidak ada, jatuh cinta menjadi sebuah penderitaan yang sangat menyakitkan. untuk hal-hal seperti ini saya iri kepada Hawa, yang bisa memastikan bahwa Adam adalah laki-laki baginya untuk membangun keluarga, tanpa ada kegalauan yang tidak perlu. seseorang yang pasti. mau Adam gendut atau kerempeng, mau hidungnya mancung atau pesek, mau pintar atau tidak, mau frontal atau implisit, terima saja. orang bilang tidak ada pilihan lain, namun pada dasarnya mereka hanya memilih untuk membuatnya menjadi mungkin.
padahal, pada dasarnya jodoh sendiri adalah sebuah kepastian Tuhan. Dia memberikan jodoh yang kualitasnya sama dengan saya, bukan jodoh yang terdekat dan paling sering ngobrol dengan saya. mengingat hal ini, bergaul terlalu dekat dengan laki-laki menjadi sedikit nonsense. yah, tapi itu kan bagi yang percaya hal ini sebagaimana saya mempercayainya.
tapi melihat banyak kejadian dan mendengar banyak cerita, saya cukup yakin bahwa jodoh itu bukan hal yang bisa dipastikan sendiri oleh manusia, sebagaimana hal-hal lain.
jadi, buat apa saya main Tuhan?
istilahnya saya bisa sangat judes kepada seorang laki-laki, tapi jika Tuhan menghendaki, maka dia akan tetap maju ke depan pintu rumah saya, mengetuk pintu, dan melamar saya di hadapan orang tua saya. dan sebaik apapun saya kepada seorang laki-laki, jika memang bukan jalannya, tidak akan terbersit dalam hatinya bahkan untuk mempertimbangkan saya. wallahu’alam.
jadi, apa sebenarnya inti dari semua ini? hmm, mungkin hanya peringatan bagi diri sendiri untuk berhati-hati dengan yang namanya perasaan. jangan dibuat main-main. apalagi untuk saya, yang mendambakan laki-laki (alhamdulillah saya tidak mendambakan perempuan) sebagai teman hidup.
untuk laki-laki yang membaca ini, berhati-hatilah dengan saya. jangan main-main dengan saya, hehehehe.
america’s next top model cycle 15
baru kelar nonton, hahahaha. seneng deh ann jadi juara.
kemaren-kemaren diketawain temen sih, “kok cewek nontonnya ANTM, kayak cowok aja.” cuman rasanya seneng aja sih ngeliatnya.
secara saya juga gag terpengaruh apa-apa liat cewek-cewek pake bikini.
yah, saya mungkin tidak akan rela secara pribadi kalo orang-orang terdekat saya jadi model karena ritme kerjanya yang gila, mana kalo fashion show para desainer dan stylist-nya seenak-enaknya main copot-copot baju, buka kancing, merogoh-rogoh.. geli banget.
cuman yang menarik itu saat para juri menilai para peserta.
saya selalu selalu punya stereotipe tentang orang seperti apa yang cantik, yang seperti apa yang ganteng, cuman para juri-juri ini punya definisi sendiri tentang kata ‘cantik’. yang unik.
tinggi banget dan kerempeng? cantik loh. kayak ann. <3
item dengan bibir tebal? cantik dan seksi loh.
gigi renggang dan muka berbintik-bintik? cantik!
muka kotak? cantik!
jidat lebar? wuoh cantik dan seksi kayak tyra banks.
jadi malu sendiri, saya yang gag ngerti apa-apa soal fashion dan kecantikan secara umum suka ngejudge orang: orang ini cantik. orang ini biasa aja. yang ini ganteng. yang ini enggak deh.
emang siapa saya?
sok-sok main Tuhan, padahal definisi cantik yang bener aja gag ngerti.
yah,
selama ini saya juga selalu berpikir bahwa mungkin bukan termasuk klan cewek-cewek memukau yang saya puja-puja itu (btw saya straight, suka cowok, kalo cewek cantik suka ngeliatinnya aja)…
…tapi saya juga punya hak untuk merasa cantik. :)
juga punya tanggung jawab yang sama untuk tampil rapi dan bersih (backsound: mandi Dit!)